Sabtu, 26 November 2011

//Diskusi Film// Summer Wars

Perang Gaya Baru Jepang
oleh Maulvi DM



Mamoru Hosoda | 2009 | Animasi | 114min | Selasa, 29 Nov 2011, 10.00 WIB - R. 104 GKU Fisipol UGM

Apa makna baru dari sebuah 'peperangan' bagi negara seperti Jepang?

Sebagai sebuah negara yang tumbuh berabad-abad dalam konflik dan peperangan, pastinya Jepang sangat memahami apa itu makna perang. Negara inipun, pernah tampil sebagai negara terkuat di kawasan Asia melalui peperangan seperti dalam Russo-Japanese War, dan bahkan pernah jatuh ke dasar sehina-hinanya melalui perang dunia II. Lantas, setelah trauma perang dunia II dan selama bertahun-tahun bersikap anti-perang, bagaimanakah hari ini Jepang memandang nilai sebuah peperangan, dalam artian yang modern?

Summer Wars adalah sebuah film yang akan menggambarkan bagi penonton, bahwa meski dalam beberapa hal terjadi perubahan luar biasa antara Jepang yang 'dulu' dan Jepang hari ini, tetap ada beberapa nilai yang tidak bergeser dan secara alam bawah sadar ditularkan dari generasi ke generasi mengenai nilai-nilai dan pandangan bangsa Jepang terhadap suatu 'peperangan'.

Selamat datang dalam 'peperangan gaya baru' Jepang.

Jumat, 25 November 2011

//Diskusi Film// Schoolgirl's Diary

Meraba Propaganda Korea Utara
oleh Maulvi DM



In-Hak Jang | 2007 | Drama-propaganda | 95min | Selasa, 29 Nov 2011, 13.00 WIB - R. 104 GKU Fisipol UGM

Korea Selatan dengan gelombang Hallyu-nya menjadi pemain baru dalam kancah perfilman dunia. Film-filmnya ditonton dan diterima publik global, menciptakan ribuan bahkan jutaan fans dan pencinta film dan budaya Korea. Setiap tahunnya, hingga ratusan film diproduksi di Seoul, dan dalam satu filmnya ditonton hingga sepuluh juta orang Korea.

Bagaimana dengan saudaranya, Korea Utara? Sepanjang dekade ini, Korea Utara sama sekali tidak merilis satupun film. Meskipun faham betul bahwa film merupakan sebuah alat propaganda yang paling mapan dalam dunia yang semakin butuh hiburan ini, Korea Utara seakan bergeming terhadap media ini. Bagaimanakah posisi media film dalam perspektif Korea Utara?

School Girl's Diary (2007), merupakan satu dari sedikit film Korea Utara yang diproduksi sepanjang zaman. Film ini hampir tidak dirilis hingga sebuah distributor film dari Perancis menawarkan suatu distribusi internasional bagi film ini. Mengapa film ini yang dipilih oleh pemerintah Korea Utara untuk mewakili imaji mengenai negara tersebut bagi dunia internasional? Nilai-nilai apa saja yang dapat kita cermati dari detail-detail cerita film ini?

Bagi sebuah masyarakat modern yang futuristis, School Girl's Diary bisa dibilang menjadi sebuah keajaiban dunia. Film ini akan memperlihatkan betapa ada sebuah 'dunia lain' di ujung dunia ini yang eksis dengan cara mereka sendiri.  Datanglah, dan bedah bersama film ini, dan nikmatilah sebuah film propaganda dari abad ke-21.

//Diskusi Film// Nanjing! Nanjing!

Glorifikasi Baru Cina Daratan
oleh Maulvi DM



Chuan Lu | 2009 | Drama | 132min | Kamis, 01 Des 2011, 10.00 WIB - R. 104 GKU Fisipol UGM

Satu dekade terakhir ini, perfilman Cina daratan terlihat mengalami perkembangan yang sangat signifikan, terutama melalui genre kolosal yang nampak sangat mencolok dianding genre-genre lainnya. Dipimpin oleh generasi sutradara Zhang Yi Mou, film-film Cina memberikan warna tersendiri selama sepuluh tahun terakhir. Dimulai dari Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) yang memenangkan berbagai penghargaan, genre drama-sejarah-kolosal kemudian terus-menerus muncul, seperti Hero (2002), House of Flying Dagger (2004), Curse of the Golden Flower (2006), Red Cliff (2008), hingga Ip Man (2010) yang memiliki ramuan yang sama yaitu tumpah ruahnya ribuan manusia dalam gemerlap dan kolosalnya set serta nilai kesejarahan yang sangat tinggi. Melalui film-film tersebut, Cina seakan tergambarkan sebagai sebuah daratan dengan sejarah dan peradaban yang besar, mulia, dan pada saat yang bersamaan, kuat. Lihatlah bagaimana pada film Hero, Red Cliff, dan Curse of the Golden Flower dapat ditemukan adegan yang berlama-lama dengan serbuan ratusan ribu prajurit dengan pakaian tempur dan peralatan perang yang gemerlapan.

Hal yang sama juga ditemui dalam Nanjing! Nanjing! (2009), yang juga mengeksploitasi kekolosan cerita sebagai inti utama film ini. Hampir sama dengan film-film Cina pada dekade yang sama, dapat dengan mudah ditemui adegan ratusan ribu manusia berjibaku dengan peperangan dan darah. Akan tetapi, yang membuat unik film ini dibanding film Cina kebanyakan adalah bahwa film ini memilih untuk menggambarkan sisi yang berlawanan dari 'Cina yang berperadaban tinggi'.

Film ini mengangkat kisah penyerbuan Nanjing, ibukota Republik Cina, oleh pasukan kerajaan Jepang pada Perang Pasifik. Bukanlah adegan glorifik yang dimunculkan dalam perlawanan para prajurit Cina melawan pasukan Jepang, akan tetapi justru kekalaha, kehancuran, dan penghabisan dari sebuah bangsa bernama Cina yang dilambangkan oleh kota Nanjing. Apa yang ingin diangkat film ini kemudian? Mengapa film ini menjadi begitu berlawanan dengan tren kolosal film Cina pada era tersebut?

Pertanyaan ini akan dijawab melalui pemutaran film Nanjing! Nanjing! yang diikuti dengan diskusi pada hari Kamis, 1 Desember 2011 di R. 104 GKU Fisipol UGM. Tertarik? Jangan sampai ketinggalan :)

Rabu, 23 November 2011

//Seminar// Future Challenges of East Asia

Menanti Masa Depan Asia Timur
oleh Maulvi DM


Semenjak berhasil bangkit dari krisis finansial di akhir milenium, Asia Timur telah menjadi kawasan yang begitu gemerlap dan menjanjikan pada awal abad baru ini. Setiap negara di kawasan tersebut berlomba-lomba menorehkan sejarah baru dalam dunia global. Cina daratan, memulai 'Peaceful Rise' dan dengan segera mengembangkan perdagangannya hingga menggeser Jerman sebagai importir ketiga terbesar di dunia. Korea, dengan gelombang kebudayaan baru-nya, menciptakan satu tren selebritas dan hiburan yang baru dengan interkoneksi industri perfilman, musik, teknologi, dan otomotif mereka. Jepang, meskipun masih saja berada dalam Lost Decade, tetap saja masih menjadi satu bagian terpenting dalam perkembangan teknologi dan industri internasional. Korea Utara, dengan caranya sendiri, juga berhasil mencuri perhatian dunia dengan heboh nuklirnya. Terutama setelah terperosoknya Amerika Serikat terhadap War on Terrorism yang tak berkesudahan dan terjerembabnya perekonomian Zona Eropa, praktis mata dunia terarah kepada kawasan Asia Timur.

Dengan kondisi yang dimilikinya saat ini, bisa jadi kawasan Asia Timur menjadi pemimpin yang berpengaruh di kawasan Asia, akan tetapi lebih jauh lagi, bisa menguasai dunia. Namun apakah akan semudah itu? Bagaimanakah masa depan Asia Timur dan prospek-prospek yang dimilikinya? Apa saja tantangan-tantangan yang harus dihadapi? Dan bagaimana Indonesia dapat menarik peluang dalam peta masa depan Asia Timur ini?