oleh Maulvi DM
Chuan Lu | 2009 | Drama | 132min | Kamis, 01 Des 2011, 10.00 WIB - R. 104 GKU Fisipol UGM
Satu dekade terakhir ini, perfilman Cina daratan terlihat mengalami perkembangan yang sangat signifikan, terutama melalui genre kolosal yang nampak sangat mencolok dianding genre-genre lainnya. Dipimpin oleh generasi sutradara Zhang Yi Mou, film-film Cina memberikan warna tersendiri selama sepuluh tahun terakhir. Dimulai dari Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) yang memenangkan berbagai penghargaan, genre drama-sejarah-kolosal kemudian terus-menerus muncul, seperti Hero (2002), House of Flying Dagger (2004), Curse of the Golden Flower (2006), Red Cliff (2008), hingga Ip Man (2010) yang memiliki ramuan yang sama yaitu tumpah ruahnya ribuan manusia dalam gemerlap dan kolosalnya set serta nilai kesejarahan yang sangat tinggi. Melalui film-film tersebut, Cina seakan tergambarkan sebagai sebuah daratan dengan sejarah dan peradaban yang besar, mulia, dan pada saat yang bersamaan, kuat. Lihatlah bagaimana pada film Hero, Red Cliff, dan Curse of the Golden Flower dapat ditemukan adegan yang berlama-lama dengan serbuan ratusan ribu prajurit dengan pakaian tempur dan peralatan perang yang gemerlapan.
Hal yang sama juga ditemui dalam Nanjing! Nanjing! (2009), yang juga mengeksploitasi kekolosan cerita sebagai inti utama film ini. Hampir sama dengan film-film Cina pada dekade yang sama, dapat dengan mudah ditemui adegan ratusan ribu manusia berjibaku dengan peperangan dan darah. Akan tetapi, yang membuat unik film ini dibanding film Cina kebanyakan adalah bahwa film ini memilih untuk menggambarkan sisi yang berlawanan dari 'Cina yang berperadaban tinggi'.
Film ini mengangkat kisah penyerbuan Nanjing, ibukota Republik Cina, oleh pasukan kerajaan Jepang pada Perang Pasifik. Bukanlah adegan glorifik yang dimunculkan dalam perlawanan para prajurit Cina melawan pasukan Jepang, akan tetapi justru kekalaha, kehancuran, dan penghabisan dari sebuah bangsa bernama Cina yang dilambangkan oleh kota Nanjing. Apa yang ingin diangkat film ini kemudian? Mengapa film ini menjadi begitu berlawanan dengan tren kolosal film Cina pada era tersebut?
Pertanyaan ini akan dijawab melalui pemutaran film Nanjing! Nanjing! yang diikuti dengan diskusi pada hari Kamis, 1 Desember 2011 di R. 104 GKU Fisipol UGM. Tertarik? Jangan sampai ketinggalan :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar